SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DESA SUMBERARUM =============== PEMERINTAH DESA SUMBERARUM KECAMATAN KEREK KABUPATEN TUBAN =============== "MENJADIKAN DESA SUMBERARUM LEBIH MAJU , SEJAHTERA DAN SANTUN."

Artikel

TRADISI KUPATAN DESA SUMBERARUM

28 Maret 2021 17:38:28  Admin  63 Kali Dibaca  Berita Lokal

Sumberarum, 28 Maret 2021

Di pulau Jawa terdapat tradisi Kupatan yang merupakan hasil dari pemikiran para Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam melalui budaya. Biasanya masyarakat desa berkumpul di suatu tempat seperti masjid atau musholla untuk melakukan selamatan dan seluruh warga membawa hidangan, yang di dominasi dengan ketupat. Begitu pula yang dilakukan masyarakat desa Sumberarum yang turut melaksanakan tradisi Kupatan di Rumah Bapak Kepala Desa (NARTO). Masyarakat berkumpul pada Pukul 16.00 dengan membawa hidangan Ketupat dan melaksanakan doa bersama yang dipimpin oleh modin desa.

Tradisi kupatan ini telah dilakukan dari zaman dahulu yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan juga sebagai wujud niat masyarakat dalam mempertahankan budayanya, serta untuk meningkatkan rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas segala yang telah diberikan-Nya.

Ketupat (Kupat) merupakan makanan berbahan  beras dibungkus dengan selongsong anyaman daun kelapa yang masih muda (janur, jawa). Masyarakat desa membuat sendiri selongsong anyaman, lalu diisi dengan beras dan dimasak dalam rendaman air.

Ketupat direbus berjam-jam hingga matang. Makanan ini biasanya di sajikan bersama sayur pelengkap, seperti opor ayam, lodeh nangka muda atau srondeng bumbu kelapa.

Ketupat atau kupat sendiri memiliki banyak makna sebagaimana yang telah diketahui oleh masyarakat Jawa. Kupat di artikan sebagai “laku papat” yang menjadi simbol dari empat segi dari ketupat. Dalam bahasa Jawa adalah kupat sendiri merupakan singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) yang menjadi simbol untuk saling memaafkan.

Oleh para Walisongo, tradisi membuat kupat itu dijadikan media untuk meyebarkan syiar agama dan  dalam mendakwahkan ajaran Islam yang ramah tanpa marah apalagi mengatakan bid’ah. Sehingga masyarakat Nusantara tidak merasa terusik dengan adanya Islam, mau menerima ajaran Islam yang saat ini menjadi agama mayoritas di bumi Nusantara.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Aparatur Desa

Wilayah Desa

Peta Desa

Agenda

Belum ada agenda

Komentar Terbaru

Info Media Sosial

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:60
    Kemarin:133
    Total Pengunjung:90.665
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.236.98.69
    Browser:Tidak ditemukan